5 November 2010, hari yang mungkin tidak akan dilupakan oleh penduduk Cangkringan. Awan panas dari letusan Merapi memanggang semua yang dilewatinya tanpa kecuali sampai jarak 15km. Letusan malam itu, merupakan puncak dari rangkaian erupsi Merapi pada akhir 2010. Sebuah peristiwa yang diluar dugaan banyak orang, karena jarak luncur awan panas yang mencapai 15km dari puncak Merapi. Akibatnya korban jiwa kembali berjatuhan, bahkan lebih banyak dari letusan pada akhir September 2010.
Tidak hanya menimbulkan korban jiwa, erupsi Merapi 2010 juga mengakibatkan kerugian materi yang sangat besar. Menurut estimasi ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), kerugian yang diderita masyarakat Kabupaten Sleman mencapai 5 Trilyun rupiah. Angka ini cukup masuk akal mengingat luasnya cakupan wilayah letusan yang di dalamnya banyak terdapat bangunan dan lahan pertanian. Rusaknya lahan pertanian mengakibatkan banyak masyarakat yang kehilangan sumber penghasilan utamanya.
Meski mengalami kerugian yang besar, namun mereka tidak lantas berpangku tangan. Segera setelah situasi dinyatakan aman, mereka kembali lagi ke kampungnya. “Semua ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa, Merapi memang sedang membangun”, kata salah seorang ibu warga dusun Srunen. Ibu ini kehilangan mata pencahariannya, kebun kopinya rusak dan delapan ekor sapi miliknya mati. Rumahnya yang hanya berjarak 5km dari Merapi juga luluh lantak. Namun setelah mendapat bantuan dari berbagai pihak, dia segera membangun rumah dan membeli sapi perah untuk kembali merintis usaha ternak sapi.
Begitu juga dengan tetangganya yang juga senasib dengannya. Mereka dengan penuh semangat bangkit kembali dari keterpurukan. Rumah mereka bangun dengan gotong royong melibatkan seluruh warga kampung. Bahkan ada beberapa warga Bantul yang ikut membantu. Mereka memang ingin membantu saudaranya yang terkena musibah sekaligus membalas budi atas bantuan yang diterima pasca gempa Bantul 2006 lalu.
Bantuan yang diberikan kepada korban erupsi Merapi memang cukup banyak. Termasuk juga bantuan uang tunai dari berbagai lembaga. Bantuan uang tunai tersebut ditujukan untuk menyediakan modal usaha bagi korban yang kebanyakan telah kehilangan pekerjaan. Dalam penyalurannya banyak lembaga yang mempercayakan BMT sebagai penghubung dengan korban yang akan dibantu. Saat ini perkembangan BMT, khususnya di wilayah Sleman cukup pesat. Sudah puluhan BMT beroperasi di wilayah ini. Masyarakat pun sudah cukup akrab dengan BMT dan mereka telah memanfaatkan jasanya.
Menurut Bu Arlin, manajer dari BMT SHU (Surya Harapan Umat) mereka telah menerima bantuan dana tunai dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sebesar 200 juta rupiah. Bantuan tersebut digunakan untuk memutihkan pinjaman nasabah yang rumah dan lahannya rusak parah. Total nasabah yang menerima pemutihan pinjaman adalah sekitar 104 orang. Memang sangat banyak nasabah BMT yang terletak di desa Argomulyo, Cangkringan menjadi korban erupsi. Banyak diantara mereka yang kehilangan seluruh hartanya, bahkan ada dua nasabah yang meninggal dunia akibat terkena awan panas.
Selain melakukan pemutihan, BMT SHU juga memberikan layanan pinjaman lunak kepada nasabah. Dana pinjaman lunak ini berasal dari salah satu lembaga amal yang menyalurkannya melalui P2EB UGM bekerjasama dengan BPD DIY Syariah dan beberapa BMT salah satunya adalah BMT SHU. Tidak semua nasabah dapat memperoleh fasilitas ini, namun pinjaman lunak ini cukup membantu korban bencana untuk kembali pulih.
Bencana erupsi Merapi yang terjadi setahun lalu tidak membuat warga lereng Merapi mengeluh. Mereka justru dengan segera bangkit dari keterpurukan dan memulainya lagi dengan semangat. Hal ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Mulai dari para penyumbang sampai BMT yang membantu menyalurkan dana bantuan secara tepat sasaran. Sinergi yang baik antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga lainnya semakin mempercepat pemulihan warga lereng Merapi.
Kini pemukiman warga yang luluh lantak setahun yang lalu sudah berangsur normal. Banyak warga yang sudah kembali ke rumah yang sudah dibangun. Meski belum pulih benar, kegiatan perekonomian warga sudah menggeliat kembali. Terlihat beberapa warga mencari rumput untuk ternaknya, menambang pasir yang melimpah, dan bahkan memaksimalkan situasi di desanya yang kini menjadi tempat wisata. Harapan baru kembali muncul, warga sudah mulai pulih dari dampak bencana.